Semangat zaman dari setiap generasi kadang bisa dilihat secara metaforik dalam benda-benda kecil sehari-hari. Dalam hal ini, generasi yang akan saya bicarakan adalah generasi mi instan. Ini bukan hal yang enak didengar, tapi tak banyak yang sadar masyarakat kita sekarang terdidik dengan simbolik Indomie.
Instant Noodle pertama dibuat pada 1958 oleh Momofuku Ando, dan sejak saat itu produk massal ini menyebar ke seluruh dunia. Pada titik ini, harga sebuah sangatlah mahal. Sekitar 35 Yen atau enam kali lipat dibanding mi olahan biasa. Mi instan pertama di Indonesia kemudian tercatat dikeluarkan oleh Indofood pada 1970-an.
Mi, yang dulu dengan melelahkannya dibuat secara manual di rumah-rumah, sekarang dapat dikerjakan 5 menit saja oleh seorang balita pun. Proses produksi sebuah mi digantikan oleh mesin-mesin besar dan bumbu rempah terganti MSG. Dengan memasak sebuah mi instan di rumah, sebenarnya kita tidak melakukan proses produksi apapun. Produksi, telah selesai jauh sebelum produk mi kita beli di supermarket kesayangan kita. Ingat kan dulu kita sering makan indomi tanpa dimasak? Merebus kita itu tetap merupakan aktifitas konsumsi. Membeli sebuah mi adalah membeli kepraktisan proses pembuatan si produk.
Yang kita terima kemudian sangat artifisial. Memang harus ada yang dikorbankan ketika sebuah proses panjang dipotong sedemikian rupa dalam kata ‘instan’.